Teater Lenong: Seni Teater Tradisional Rakyat Betawi di Jakarta

Seni Teater Lenong adalah salah satu jenis Seni Teater Tradisional yang sangat populer khas Suku Betawi yang berasal dari wilayah DKI Jakarta. Kesenian Teater Lenong ini telah dikenal luas di Indonesia karena pernah diperkenalkan dan dipopulerkan lewat media televisi pada medio 1990-an dan 2000-an awal.

Lenong sering ditampilkan lewat media televisi dengan menggunakan dialog berbahasa Indonesia namun dengan dialek khas Betawi. Lenong sering dijadikan sebuah tontonan yang sangat menghibur masyarakat Betawi, hingga seluruh Indonesia. Melalui pertunjukkan Seni Teater Lenong ini juga banyak disisipkan nasehat dan pesan-pesan moral untuk para penontonnya.

 

Sejarah Seni Teater Lenong

Seni Teater Lenong telah muncul sejak akhir abad ke-19 dan berkembang hingga awal abad ke-20. Awalnya dari Pertunjukkan Seni Teater Tradisional ini bermula dari pementasan Wayang Abdul Muluk yang dijumpai di Riau dan Sumatra Utara pada tahun 1886. Pertunjukkan tersebut muncul dari pengaruh Komedi Parsi yang populer di kawasan Semenanjung Malaka saat itu dan mempengaruhi hiburan masyarakat Pesisir Timur Pulau Sumatra, Pelabuhan Batavia hingga ke pesisir Surabaya. Pada tahun 1914 Pementasan Wayang Abdul Muluk ini telah mencapai Pelabuhan Sunda Kelapa dan berkembang di kawasan Jakarta.


Menurut Sumber sejarah dari para seniman asal Betawi, Teater Rakyat bernama Lenong ini awalnya berkembang dari proses teatrikal Musik Gambang Kromong sejak tahun 1920-an. Bentuk awal Lenong pada perkembangan pertamanya adalah berupa lakon-lakon lawakan antar pemeran tanpa menggunakan alur cerita. Pertunjukkan Seni Teater Lenong dipertunjukkan dari satu kampung ke kampung lainnya dan dilakukan di atas lapangan terbuka tanpa adanya panggung. 

Seorang Saudagar Tiongkok yang telah menetap di Kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa bernama Lien Ong, sangat menyukai penampilan Seni Teater Rakyat ini. Beliau kerap mengundang Kelompok Abudl Muluk dan menggelar pertunjukkan Musik Gambang Kromong untuk menghibur tamu undangan dan keluarga di rumahnya. Lien Ong sangat terinspirasi dari Kesenian tersebut dan berusaha menirunya. Beliau akhinrya berusaha mengajak para Seniman Lokal Betawi untuk mempelajarinya. Lien Ong juga memodifikasi bentuk Seni Teater ini menjadi sebuah sandiwara utuh yang diselingi dengan penyajian Pantun dan Tarian oleh para pemerannya. 

Seni Teater Lenong menjadi semakin berkembang dan memiliki naskah sandiwara. Peran dari Saudagar Lien Ong dipercaya menjadi sumber inspirasinya. Penamaan Teater Lenong pun diyakini berasal dari nama Lien Ong dan dikenal menjadi Lenong. Hingga pada tahun 1930an, Pertunjukkan Kesenian Lenong diperkenalkan pertama kali kepada masyarakat Betawi  lewat Lakon Cerita seorang Jagoan Betawi yang ditampilkan oleh Grup Lenong legendari “Si Ronda” dan “Curug”. 

Dahulu pertunjukkan Seni Teater Lenong ditampilkan pada malam hari dengan durasi panjang atau semalam suntuk. Hingga pada tahun 1970-an Kesenian Teater Lenong mengalami perubahan oleh para seniman lokal Betawi yang menyajikannya diatas Panggung. Saat itu Kesenian Lenong ditampilkan secara rutin di Panggung Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Seni Teater Lenong mengalami modifikasi tata panggung menjadi lebih modern, dan memiliki durasi 2-3 jam saja. Hingga akhirnya Kesenian Teater Lenong pun dipopulerkan melalui media Televisi yang disiarkan oleh TVRI.

 

Tujuan dan Makna Teater Lenong

Kesenian Teater Tradisional Lenong memiliki tujuan sebagai pertunjukkan hiburan Masyarakat Betawi di sekitar kawasan Sunda Kelapa saat awal kemunculannya. Tetapi Seni Teater Lenong memiliki tujuan lain dari para Seniman Betawi yang juga ingin menyampaikan beberapa pesan positif berupa nasehat dan penyampaian pesan moral dari sandiwara cerita yang disuguhkan. Terkadang dihadirkan beberapa konflik didalam sandiwara tersebut, tetapi juga disisipkan sebuah solusi dan kesimpulan yang bijak dari sebuah peristiwa.

Lenong memiliki makna kebebasan berekspresi dan kebahagiaan yang disampaikan oleh para Pemeran kepada para penonton. Seni Teater Lenong ini juga memiliki fleksibelitas yang dapat mengikuti arus modernisasi tanpa harus meninggalkan nilai-nilai tradisinya.

 

Ciri Khas Pementasan Lenong

Pada awal kemunculannya Seni Teater Lenong disajikan berpindah-pindah antar kampung di sekitaran kawasan Jakarta. Penampilan Kesenian Lenong biasanya diiringi oleh Musik Gambang Kromong dengan instrument alat musik berupa Drum, Gong, Kerecekan, dan juga alat musik Gambang Kromong itu sendiri.

Seni Teater Lenong memiliki ciri-ciri unik yang membedakan pertunjukkan seni teater Lenong ini dengan pertunjukkan seni teater tradisional lainnya. Berikut ini adalah beberapa ciri khas Pementasan Seni Teater Lenong.

  1. Dialog menggunakan Bahasa Indonesia dengan dialek khas Betawi.
  2. Pertunjukkan Teater Lenong diiringi oleh Musik Gambang Kromo.
  3. Para pemeran Teater Lenong menggunakan busana berupa pakaian sehari-hari yang dikenal masyarakat. Namun pada beberapa momentum, akan menggunakan jenis busana tertentu atau formal yang menyesuaikan dengan naskah cerita dari sutradara.
  4. Penyajian Pertunjukkan Kesenian Lenong memiliki keunikan prakteknya berupa tata panggung yang berbentuk tapal kuda.
  5. Panggung Kesenian Lenong didekorasi dengan metode Seben, yaitu terdiri dari beberapa layer 3x5 dengan beragam corak.
  6. Pertunjukkan mengandung corak humor dan hal ini bersifat improvisasi dari para Pemerannya. Terkadang diisi dengan pesan-pesan nasehat dan memiliki pesan moral dari sebuah cerita.
  7. Pertunjukkan Teater Lenong biasanya diselenggarakan oleh masyarakat yang memiliki acara hajatan tertentu.

 

Jenis-Jenis Kesenian Lenong

Penampilan Kesenian Teater Lenong memiliki  2 jenis bentuk. Berikut ini adalah jenis-jenis Kesenian Teater Lenong dan deskripsinya.

1. Lenong Denes

Lenong Denes memiliki arti Lenong Resmi, berdasarkan dialek Betawi yang menyebutnya Lenong Dinas. Ciri khas dari Teater Lenong ini para pemerannya menggunakan busana formal dan dialog bergaya formal dengan tutur yang halus. Sandiwara cerita yang ditampikan biasanya bertema Kerajaan atau menceritakan kehidupan lingkungan bangsawan.
 

Lenong Lendes

2. Lenong Preman

Lenong Preman diartikan sebagai Lenong Bebas. Ciri khas dari Lenong ini biasanya menggunakan busana yang lebih bebas dan tidak ditentukan oleh Sutradara. Dialog yang digunakan adalah bahasa percakapan sehari-hari dan sangat ringan. Sandiwara cerita yang ditampilkan biasanya adalah berkisah tentang kehidupan sehari-hari masyarakat atau seputar isu-isu sosial masyarakat disekitarnya.

Lenong Preman

3. Lenong Topeng

Lenong Topeng adalah jenis kesenian Lenong yang terpengaruh oleh budaya Sunda dari Jawa Barat. Lenong ini cukup berbeda dengan Lenong khas Betawi yang terpengaruh dari budaya Tiongkok. Lenong Topeng biasanya pemerannya menggunakan Topeng dan diselingi dengan tarian yang diiringi oleh Musik Tradisional. Cerita yang diangkat biasanya berupa cerita rakyat yang terkenal seperti cerita Si Pitung, Si Codet, kisah-kisah rakyat setempat, atau kisah-kisah mistis seperti Gagak Sawang, Pendekar Putri dari Gunung Sindur, dan lain-lain. Kemudian didalam pertunjukkan Lenong Topeng akan diisi penampilan Tari Ronggeng dimana para penarinya adalah para wanita bertopeng.

Lenong Topeng (sumber: freepik.com)

Demikian artikel singkat yang menceritakan deskripsi Seni Teater Lenong, beserta rangkuman sejarah, makna, bentuk penampilannya. Artikel terkait lainnya silahkan menelusuri label seni teater pada laman tegaraya.com

2 Komentar untuk "Teater Lenong: Seni Teater Tradisional Rakyat Betawi di Jakarta"

  1. Jadi ingat masa kecil mas hehe, dulu suka nonton lenong di tivi, asyik gitu banyak humornya dan interaktif dengan penonton

    BalasHapus
  2. Di tempat saya yang bukan jakarta, ada juga pertunjukkan semisal lenong ini. Pada intinya adalah seni peran komedi dengan bahasa daerah setempat, sehingga terasa lebih lucu dibanding komedi di tv. Karena menggunakan bahasa daerah..

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

RajaBackLink.com