Seni Arsitektur Romanesque: sejarah, ciri khas dan contoh bentuknya

Seni Arsitektur Romanesque adalah jenis Seni Arsitektur yang lahir dan berkembang di daratan Eropa Kuno pada periode Abad Pertengahan. Seni Arsitektur Romanesque merupakan salah satu warisan Seni Arsitektur Kekaisaran Romawi Kuno yang menguasai sebagian besar kawasan Eropa dan mempengaruhi banyak aspek di bidang Arsitektur bangunan saat itu.

Seni Arsitektur Romanesque disebut juga sebagai Seni Arsitektur Norman. Seni Arsitektur Romanesque merupakan sebuah tingkat lanjut dari perkembangan Seni Arsitektur di Dunia yang diwakili dari Kultur dan Kebudayaan Kekaisaran Romawi.

 

Sejarah Seni Arsitektur Romanesque

Seni Arsitektur Romanesque diperkirakan muncul pada tahun 800 Masehi dan berkembang pada rentang waktu 1100 – 1200 Masehi, hingga akhirnya berkembang pesat pada tahun 1517 Masehi. Runtuhnya Kekaisaran Romawi Kuno membuat beberapa wilayah kekuasaan membentuk Negara Merdeka. Kemunduran Kekuasan Romawi ini mengakibatkan wilayah semenanjung Italia banyak dikuasai oleh Negara-negara lainnya dan orang-orang Norman. Akibatnya Romawi Kuno hanya berfokus di kawasan semenanjung Italia untuk kembali membuat bangunan-bangunan monumentalnya. Namun pengaruh Seni Arsitektur Romawi kuno sudah tersebar ke berbagai kawasan Eropa, seperti Prancis, Spanyol, Portugal, Palestina, Inggris hingga sebagian besar di semenanjung Skandinavia.

Pada rentang periode perkembangan Seni Arsitektur Romanesque ini, terjadi kekosongan perkembangan Seni Arsitektur yang sangat modern dan frontal. Periode Romanesque merupakan periode perkembangan Seni Arsitektur tanpa kesan yang menunjukkan ciri khas gaya Arsitektur saat itu. Para Seniman Arsitek saat itu hanya bereksperimen dengan konsep Gaya Arsitektur karya-karya lama Romawi (Byzantium) dan mencampurnya dengan ide-ide dari Seni Arsitektur Kristen Awal. Karena fenomena kekosongan ini, Periode Romanesque disebut juga sebagai periode Dark Ages.

Istilah nama “Romanesque” muncul pada abad ke-19 untuk menunjukkan Seni Arsitektur yang terjadi pada abad ke-11 hingga abad ke-12, yang memiliki arti “dengan gaya Romawi”. Setelah kemunculan dan perkembangan Seni Arsitektur Romanesque ini, kemudian Seni Arsitektur Abad Pertengahan di Eropa Klasik berkembang menjadi Seni Arsitektur Goth atau Gothic.

 

 

Ciri Khas Arsitektur Romanesque

Ciri khas dari lahirnya Seni Arsitektur Romanesque adalah ditemukannya penggunaan Pelengkung setengah Lingkaran. Struktur atau elemen dan interior Seni Arsitektur Romanesque yang cukup ikonik ini disebut Roman Arch.

Beberapa ciri khas dan karakteristik lainnya dari bangunan-bangunan bercorak Seni Arsitektur Romanesque saat itu antara lain adalah:

  1. Denah bangunan berbentuk simetris berpola lingkaran, segi empat atau segi delapan. Namun pada bangunan Gereja, Denah dapat berbentuk Salib dengan altar terletak di Timur (atau menghadap Yerusalem).
  2. Bentuk bangunan masif, terdiri dari tembok tebal dan pilar yang kokoh, tampilan yang sederhana namun tegas, teratur dan simetris.
  3. Pada bangunan Gereja bergaya Seni Arsitektur Romanesque, memiliki karakteristik busur lengkung, yang terlihat pada pintu, jendela, gang-gang Arcade, langit-langit dan lainnya.
  4. Langit-langit menggunakan material berbahan batu menggantikan material kayu yang mudah terbakar pada masa itu. Struktur langit-langit terdapat 2 jenis yaitu Barrel Vault (sederhana) dan Cross Vault (Busur Bersilang).
  5. Kolom-kolom besar yang disebut Capital Coloumn, dibuat dengan dasar order Romawi atau desain khas Romanesque. Kolom Romanesque berbentuk masif dan kokoh karena untuk mendukung konstruksi atap dan kubah yang berat. Bentuk kolom Capital terinspirasi dari Gaya Corinthian.
  6. Pintu masuk pada Bangunan Gereja didekorasi dengan dinding yang tebal ke arah dalam menyerupai lorong. Diatas pintu masuk memiliki fitur relief yang disebut Tympanum. Relief Tympanum biasanya menggambarkan penggalan cerita dari Injil.
  7. Jendela terlihat kecil dan sempit. Susunan kolom, busur dan pahatan dekorasi di sekeliling jendela membuatnya terlihat lebih besar.
  8. Fitur atap berbentuk kerucut meruncing ke atas dan sebagiannya lagi menggunakan struktur kubah berdenah oktagonal serta menggunakan corner squinch yang menyesuaikan dengan denah bangunan berbentuk persegi.
  9. Kubah Atap dari Gaya Arsitektur Romanesque ditandai dengan pelengkung berujung pada kubahnya yang disebut Groin Vault.
  10. Interior bangunan bergaya Seni Romanesque didominasi warna abu-abu gelap dan coklat tua. Furnitur bangunan pun terlihat sederhana dan terkesan “kotor”.
  11. Pada bangunan Gereja memiliki 2 menara tinggi di bagian depan. Sebagian bangunan Gereja memiliki fitur dekorasi jendela berbentuk lingkaran yang disebut Wheel Window.
  12. Pada Bangunan Gereja Romanesque memiliki fitur ruang bawah tanah yang disebut Crypt. Ruangan bawah tanah ini difungsikan untuk menyimpan beberapa peninggalan dari para Santo (Orang Kudus).

 

Contoh Karya Seni Arsitektur Romanesque

Pengaruh Seni Arsitektur Romanesque banyak tersebar di kawasan Eropa walaupun Kekaisaran Romawi Kuno mengalami keruntuhan pada periode Abad Pertengahan. Sebagian besar Seni Arsitektur Romanesque diaplikasikan pada bangunan aula kerajaan dan Gereja.

Berikut ini beberapa contoh bangunan yang mengaplikasikan Seni Arsitektur Romanesque.

1. Katedral Pisa

Katedral Pisa adalah Bangunan Gereja bercorak Seni Arsitektur Romanesque yang paling terkenal. Katedral Pisa terletak di kawasan Piazza dei Miracoli di Kota Pisa, Italia ini berdiri pada tahun 1063 Masehi dan diarsiteki oleh Buscheto dan Rainaldo. Ciri khas Arsitektur Romanesque pada bangunan ini terlihat pada lengkungan busur dan keberadaan menara lonceng yang dikenal sebagai Menara Pisa serta masuk ke dalam daftar Keajaiban Dunia versi kuno. 

Katedral Pisa

2. Katedral Perigueux

Basilika Katedral Perigueux dan Sarlat adalah sebuah bangunan Gereja Katolik Roma yang berada di Bordeaux, Prancis. Bangunan Gereja ini dibangun pada kisaran abad ke-3 yang dikembangkan hingga abad ke-8. Bangunan ini menampilkan ciri khas pencampuran gaya Byzantium dan Arsitektur Kristen Awal yang diperbaharui dengan elemen pelengkung khas Seni Arsitektur Romanesque.

Katedral Perigueux

3. Katedral Spreyer

Katedral Spreyer yang memiliki nama resmi The Imperial Basilica of The Assumption and St Stephen merupakan jenis bangunan Gereja bercorak Seni Arsitektur Romanesque. Bangunan Gereja ini merupakan bagian dari Keuskupan Katolik Roma yang terletak di Sprayer, Jerman. Katedral Sprayer ini adalah bangunan Gereja terbesar di kota Spayer yang dibuat pada tahun 1025 Masehi oleh Raja Konrad II. 

Katedral Spreyer

4. Katedral Lisbon

Katedral Lisbon atau Lisboa adalah Gereja Katolik Roma yang berada di Kota Lisbon, Portugal. Bangunan Gereja ini menampilkan gaya Seni Arsitektur Romanesque yang sangat klasik yang telah dibangun sejak tahun 1147 Masehi. Pada Bangunan Gereja ini menampilkan lengkungan khas Romanesque dan Wheel Window di bagian depannya.

Katedral Lisbon

5. Biara Maria Laach

Biara Maria Laach merupakan bangunan biara Benediktin yang terletak di Jerman. Bangunan ini merupakan jenis bangunan Biara bercorak Seni Arsitektur Romanesque yang dibangun pada kisaran tahun 1200-an. Bangunan Biara ini menampilkan bangunan dengan Arsitektur Kristen Awal dan dipadukan dengan elemen bergaya Arsitektur Romanesque.

Biara Maria Laach

6. Katedral Southwell

Katedral Southwell adalah bangunan Gereja Katolik Roma yang terletak di Notthinghamshire, Inggris. Bangunan ini menampilkan bangunan bergaya Seni Arsitektur Romanesque dengan elemen-elemen pelengkung, atap berbentuk linmas dan bukaan jendela yang kecil.

Gereja Southwell

7. Gereja St. Michael

Gereja Santo Michael atau disebut juga Gereja Jalan Zhejiang ini adalah Gereja Katolik Roma yang terletak di Qingdao, China. Bangunan yang dibangun oleh Misionaris Jerman yang memiliki keahlian Arsitektur bernama Alfred Frabel ini dibangun pada tahun 1931 yang menampilkan gaya Seni Arsitektur Neo-Romanesque atau Romanesque Baru, dengan beberapa elemen yang menjadi ciri khas berupa lengkungan Arc, atap Kerucut dan terdapat Wheel Window di bagian depan.

Gereja St. Michael

8. Biara Kluni

Biara Kluni merupakan bangunan biara Agama Katolik yang terletak di Burgundy, Prancis. Biara ini merupakan peninggalan perioda Abad Pertengahan yang cukup kuno dan menjadi pusat peribadatan terbesar pertama di Eropa sebelum dibangunnya Basilika St. Petrus di Roma. Bangunan Biara ini menampilkan wujud ciri khas Seni Arsitektur Romanesque yang cukup klasik.

Biara Kluni

 

Tokoh-tokoh Arsitektur Romanesque

Pada masa perkembangan Seni Arsitektur Romanesque selama periode Abad Pertengahan di Eropa, banyak muncul Arsitek-arsitek yang bereksperimen dengan Seni Arsitektur Romanesque ini. Beberapa Arsitek yang terkenal dan mengembangkan Gaya Arsitektur Romanesque ini antara lain: Buscheto, Rainaldo, Alfred Frabel, dan lain-lain. Mereka memiliki pemikiran dan karya Seni Arsitektur yang mashyur dan dikenang hingga saat ini.

 

Demikian artikel yang mendeskripsikan Sejarah, Ciri Khas dan Contoh-contoh bentuk dari Seni Arsitektur Romanesque yang lahir dari periode Abad Pertengahan di kawasan Eropa Klasik. Artikel terkait lainnya dapat ditelusuri pada label seni arsitektur pada laman tegaraya.com

2 Komentar untuk "Seni Arsitektur Romanesque: sejarah, ciri khas dan contoh bentuknya"

  1. bagunan bangunan eropa selalu khas arsitektur nya. Bronze gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas bro, menjadi referensi dunia ttg estetika arsitektur bangunan.. mudah dicampur dg elemen2 dri timur tengah jga 👌👌

      Hapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

RajaBackLink.com