google55176b2a3bd0445a.html Tokoh Penyair Puisi yang Terkenal di Indonesia -->

Tokoh Penyair Puisi yang Terkenal di Indonesia

Puisi adalah jenis Seni Sastra yang cukup populer di Dunia. Balutan kata-kata indah yang disusun dengan rapi dan terstruktur, tertulis dengan pola dan diksi tertentu serta mengungkapkan perasaan dari penulis atau penyampai Puisi tersebut. Orang yang menulis dan mempublikasikan Karya Sastra Puisi disebut dengan istilah Penyair.

 

Melalui media Karya Sastra Puisi, para Penyair akan menyampaikan ide, perasaan, emosi dan imaji yang tertulis dan disampaikan dengan lisan. Melalui tulisan-tulisan mereka terkadang akan menciptakan kutipan-kutipan kata-kata yang menjadi inspirasi bagi beberapa orang. Kemampuan para Penyair tersebut, membuat orang-orang akan mengagumi para Tokoh Penyair hingga mereka menjadi para Penyair yang Terkenal dan Legendaris. 

 

Indonesia memiliki banyak Tokoh-tokoh Penyair Puisi sejak era penjajahan Kolonial Belanda hingga pendirian Negara hingga saat ini. Karya tulis mereka berupa Puisi cukup dikenal luas di Indonesia di berbagai era. Berikut ini adalah Daftar dan Deskripsi Biografi Singkat dari Tokoh-tokoh Penyair Puisi yang Terkenal dan Legendaris di Indonesia.

 

1. Chairil Anwar

Chairil Anwar adalah Penyair Puisi yang terkenal dari Indonesia. Beliau lahir di Medan pada 26 Juli 1922 dan kemudian pindah ke Batavia (Jakarta) pada tahun 1940 bersama Sang Ibu. Chairil Anwar sempat mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Kolonial Belanda Hollandsch-Inlandsche School (HIS) hingga akhirnya beliau tidak melanjutkan pendidikannya dan bertekad menjadi seorang seniman. Chairil Anwar sangat dikenal saat itu dan mendapat julukan “Si Binatang Jalang” melalui karya Puisi berjudul Aku. Chairil Anwar meninggal di RS Dr. Ciptomangunkusumo di Jakarta pada 28 April 1949 yang diduga akibat penyakit TBC saat masih berumur 26 tahun.  

Chairil Anwar memiliki banyak karya tulis Puisi yang diperkirakan berjumlah lebih dari 70 Puisi. Karya Puisi yang ditulis Chairil Anwar mengambil tema antara lain pemberontakan, kematian, individualisme, eksistensialisme, hingga interpretasi. Beberapa judul Puisi yang terkenal antara lain; Nisan (1942), Aku (1943), Diponegoro (1943), Karawang Bekasi, Senja di Pelabuhan Kecil, Cemara Menderai sampai Jauh, Persetujuan dengan Bung Karno, dan lain-lain.

 

2. W. S. Rendra

W. S. Rendra merupakan kependekan dari nama Willibrordus Surendra Broto Rendra yang adalah salah satu Penyair Puisi yang terkenal di Indonesia. Beliau lahir di Solo pada 7 November 1935. W. S. Rendra pernah mengenyam pendidikan di Universitas Gadjah Mada dan mendapat gelar Doctor Honoris Causa. Beliau merupakan Penyair Puisi Indonesia yang terkenal di Indonesia dan mendapat julukan “Burung Merak” sejak mempublikasikan Puisi pertamanya di Majalah Siasat pada tahun 1952. W. S. Rendra meinggal di Depok, Jawa Barat pada 6 Agustus 2009 saat berusia 73 tahun.

W. S. Rendra dikenal sebagai Penyair Puisi yang melahirkan puluhan karya tulis Puisi. Puisi yang beliau buat banyak mengambil tema kehidupan. Beberapa judul puisi yang terkenal dari W. S. Rendra antara lain; Sajak-sajak Cinta, Sajak orang Lapar, Doa seorang Serdadu sebelum Perang, Mazmur Mawar, Gugur, Hai Ma!, dan lain-lain.

 

3. Sapardi Djoko Damono

Sapardi Djoko Damono adalah Seorang Pujangga dan Penyair yang Terkenal di Indonesia. Beliau lahir di Surakarta pada 20 Maret 1940 dan dikenal dengan inisial SDD. Sejak muda Sapardi Djoko Damono banyak menulis karya Puisi dan karya Sastra lainnya yang dikirim ke berbagai Majalah. Beliau mengambil pendidikan Fakultas Sastra di Universitas Gadjah Mada hingga akhirnya memperoleh gelar Doktor di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Sapardi Djoko Damono meninggal di Tangerang pada 19 Juli 2020 akibat disfungsi organ paru.

Sapardi Djoko Damono dikenal sebagai penyair sederhana namun bersahaja di Indonesia. Beliau memiliki banyak karya tulis Puisi yang bagus, terkenal dan legendaris untuk berbagai dekade. Beberapa judul puisi yang terkenal dari Sapardi Djoko Damono antara lain; Hujan Bulan Juni (1994), Aku Ingin (1989), Yang Fana adalah Waktu (1978), Pada Suatu Hari Nanti, Sajak-sajak Kecil tentang Cinta, Hatiku selembar Daun, dan lain-lain.

 

4. Taufiq Ismail

Taufiq Ismail merupakan Seorang Pujangga dan Penyair Terkenal di Indonesia yang memiliki Gelar Datuk Panji Alam Khalifatullah. Beliau lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat pada 25 Juni 1935. Taufiq Ismail besar dan berkembang dari keluarga yang berlatar belakang Ulama, Guru dan Sastrawan. Namun beliau justru mengambil pendidikan dokter hewan di FKHP-UI atau Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor dan berkeinginan menjadi ahli peternakan. Hal tersebut digelutinya sembari menjalani dan menghidupi cita-cita Kesustraannya.

Taufiq Ismail banyak mengangkat tema-tema Religius, Kehidupan dan Kenegaraan di dalam karya Sastra Puisinya. Beliau juga pernah membantu penulisan lirik-lirik lagu dari Musisi-musisi Indonesia. Beberapa judul Puisi yang terkenal dari Taufiq Ismail antara lain; Kembalikan Indonesia Padaku (1971), Sajadah Panjang (1984), Malu (aku) jadi orang Indonesia (1998), Mencari sebuah Masjid (1988), Benteng (1966), dan lain-lain.

 

5. Mustofa Bisri

Kiai Haji Mustofa Bisri atau juga dikenal dengan nama akrab Gus Mus adalah seorang Penyair dan Budayawan yang terkenal di Indonesia. Beliau lahir di Rembang pada 10 Agustus 1944. Gus Mus juga merupakan seorang Ulama yang menjadi pembina dan pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin. Gus Mus juga memperoleh penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma dari Pemerintah RI karena dedikasinya di bidang Seni Budaya. 

Gus Mus memiliki gaya Puisi yang menampilkan kesederhaan dan kearifan kata-kata. Melalui tulisan-tulisan Puisi beliau kita akan membaca sebuah sajak tanpa kata-kata yang dilebih-lebihkan dengan ungkapan emosi maupun majas dengan keindahan yang dibuat-buat. Beberapa Judul karya Puisi yang terkenal dari  Mustofa Bisri atau Gus Mus antara lain; Kalau Kau Sibuk kapan Kau Sempat (1987), Guruku (1987), Sajak Cinta (1995), Pilihan (1989), Maju Tak Gentar (1993), Andaikata (1994), dan lain-lain.

 

6. Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri merupakan seorang Sastrawan Puisi yang cukup dikenal luas dalam Dunia Sastra Indonesia. Beliau lahir di Indragiri, Riau pada 24 Juni 1941. Sutardji Calzoum Bachri pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Sosial Politik Universitas Padjadjaran, namun tidak diselesaikannya. Beliau kemudian belajar menulis sajak-sajak puisi pada beberapa Majalah yang terbit di Bandung, seperti Horison, Budaya Jaya, Sinar Harapan dan Berita Buana. Kemudian Sutardji Calzoum Bachri semakin berkembang menjadi Penulis Puisi hingga menjadi Redaktur di Surat Kabar Horison dan Kompas.

Sutardji Calzoum Bachri berpendapat bahwa penciptaan Puisi pada dasarnya adalah pembebasan kata-kata dari penjajahan pengertian, beban ide, gramatika dan tabu bahasa. Menurut Sutardji menulis Puisi mengembalikan kata seperti pada awalnya, yaitu mantra. Beberapa Judul karya Tulis Puisi yang terkenal dari Sutardji Calzoum Bachri antara lain; Kucing (1995), Amuk (1979), Bayangkan (1977), Gajah dan Semut (1976), Sepisaupi (1973), dan lain-lain.

 

7. Goenawan Mohamad

Goenawan Mohamad adalah salah satu Sastrawan terkenal di Indonesia. Beliau lahir di Kabupaten Batang, Jawa Tengah pada 29 Juli 1941. Sejak kecil beliau menyukai acara pembacaan Puisi di RRI dan sejak berumur 17 tahun sudah mempelajari Penulisan Puisi. Karir Goenawan Mohamad beranjak menjadi Redaktur beberapa Majalah seperti Horison, Ekspress dan Majalah Swasembada. Goenawan Mohamad juga merupakan salah satu pendiri Majalah Tempo.

Goenawan Mohamad yang selama puluhan tahun terlibat di Dunia Pers, juga menghasilkan beberapa Karya Tulis Puisi. Beliau adalah seorang Pemikir Monodimensional yang memiliki pandangan Liberal dan Terbuka, yang tercantum pada Puisi-puisinya. Beberapa karya Tulis Puisi yang Terkenal dari Goenawan Mohamad antara lain; Perjalanan Malam (1976), Asmaradana (1971), Barangkali telah ku Seka Namaku (1973), Tentang Usinara (2012), dan lain-lain.

 

8. Joko Pinurbo

Joko Pinurbo atau dikenal dengan Nama Pena Jokpin merupakan salah satu Penyair Terkemuka dari Indonesia. Beliau lahir di Sukabumi, Jawa Barat pada 11 Mei 1962. Joko Pinurbo memiliki kegemaran mempelajari Puisi sejak masih bersekolah di SMA, hingga akhirnya Beliau menempuh Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Yogyakarta pada 1987. Hingga akhirnya Joko Pinurbo menjadi Staf Pengajar di Kampus tersebut dan belajar menulis Puisi sendiri.

Joko Pinurbo memiliki karya-karya tulis Puisi yang memiliki gaya dan warna tersendiri yang dikenal oleh orang-orang. Gaya tulisannya mengandung refleksi dan kontemplasi yang menyentuh absurditas kehidupan sehari-hari. Beberapa judul puisi yang telah Beliau buat banyak mengandung narasi humor dan ironi, seperti Dibawah Kibaran Sarung (1999), Doa Seorang Pesolek, Bertelur (2001), Pacar Kecilku (2001), Salam, Pacar Senja (2003), dan lain-lain.

 

9. Widji Thukul

Widji Widodo atau dikenal dengan nama Widji Thukul adalah seorang Penyair dan Aktivis HAM yang Terkenal di Indonesia. Beliau lahir di Solo, Jawa Tengah pada 23 Agustus 1963. Widji Thukul mulai belajar menulis Puisi sejak SD, dan juga tertarik pada Seni Teater. Beliau pernah menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia jurusan Seni Tari, namun tidak dapat menyelesaikannya karena keterbatasan keuangan dari keluarganya. Widji Thukul yang sangat aktif berorasi tentang Kemanusiaan di era Orde Baru, dinyatakan hilang dan tidak diketahui keberadaannya sejak tahun 1998.

Widji Thukul menciptakan banyak Puisi-puisi bertemakan Kehidupan dan Kerakyatan. Didalam Puisi-puisinya, Beliau mengulas tentang Rakyat Kecil yang hidup dibawah Kepemimpinan Otoriter pada Masa Orde Baru. Beberapa judul Puisi yang Terkenal hasil tulisan Widji Thukul antara lain; Puisi untuk Adik, Monumen Bambu Runcing (1986), Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu, Suara dari Rumah-rumah Miring, Catatan Suram (1987), Tanah (1989), Jalan (1990), Nyanyian Akar Rumput (1988), dan lain-lain.

 

10. Sitor Situmorang

Sitor Situmorang merupakan salah seorang Sastrawan dan Wartawan yang Terkenal di Indonesia. Beliau lahir di Tapanuli Utara, Sumatra Utara, pada 2 Oktober 1923. Sitor Situmorang dianggap sebagai seorang Penyair Terkemuka setelah meninggalnya Chairil Anwar. Karya Tulis Puisi pertamanya tercatat saat dimuat di Majalah Siasat pada tahun 1948. Beliau bahkan pernah mengisi posisi sebagai anggota MPRS dari kalangan Seniman pada tahun 1961-1962, namun dipenjarakan sebagai Tahanan Politik di Jakarta pada masa Pemerintahan Orde Baru pada 1967-1974. Sitor Situmorang meninggal di Belanda pada 21 Desember 2014 saat berusia 91 tahun. 

Sitor Situmorang telah menulis puluhan karya tulis Puisi di berbagai era. Sajak Puisi yang Beliau tulis kebanyakan berlatar Kebudayaan Batak hingga Kebudayaan Bali. Perjalanan Kehidupan Sitor Situmorang yang dia lalui menjadi sebuah inspirasi untuk menulis Karya-karya Tulis Puisi tersebut. Beberapa judul Karya Tulis yang terkenal dari Sitor Situmorang antara lain; Surat Kertas Hijau (1954), Dalam Sajak (1955), Wajah Tak Bernama (1956), Zaman Baru (1962), Bunga di Atas Batu (1989), Rindu Kelana (1994), dan lain-lain.

 

Demikian Artikel tentang Tokoh-tokoh Penyair Puisi yang Terkenal di Indonesia. Artikel terkait lainnya dapat di cek di laman tegaraya.com

LihatTutupKomentar