-->

Seni Arsitektur Islam: Bentuk dan sejarah perkembangannya di Dunia

Agama Islam telah lahir pada di kawasan Arab Saudi pada tahun 611 Masehi atau  17 Ramadhan 11 SH yang diajarkan oleh Nabi Besar Muhammad SAW. Dengan hadirnya Agama Islam merubah peradaban dan kehidupan Manusia di kawasan Arab Saudi saat itu. Salah satu bentuk perkembangan dan perubahan Kebudayaan adalah penerapan Seni Arsitektur yang berlandaskan Agama Islam. Seni Arsitektur Islam adalah wujud perpaduan antara kebudayaan manusia dan proses pendekatan diri terhadap Keberadaan Allah SWT.

Didalam penerapan Seni Arsitektur Islam tersebut terdapat esensi dan nilai-nilai Islam yang dapat diterapkan tanpa menghalangi pemanfaatan teknologi bangunan modern sebagai alat dalam mengekspresikan esensi tersebut. Perkembangan Seni Arsitektur Islam dari abad ke-7 sampai abad ke-15 meliputi perkembangan Struktur Bangunan, Seni Dekorasi, Ragam Hias dan Tipologi Bangunan. Daerah Perkembangan Seni Arsitektur Islam ini akhirnya meluas di Kawasan Asia Barat hingga menuju ke Kawasan Eropa, Afrika hingga Asia selatan dan Asia Tenggara. Perkembangan Seni Arsitektur ini nantinya akan mengalami penyesuaian dengan budaya dan Tradisi Setempat, serta kondisi Geografis-nya.


Arsitektur Islam banyak mengadopsi beberapa gaya Arsitektur dari Kebudayaan lain seperti Romawi, Persia, dan dan Arsitektur Abad Pertengahan di Eropa. Namun dalam penerapan perancangan bangunan-bangunan bergaya Arsitektur Islam memiliki Kaidah ajaran Islam. Beberapa kaidah yang menjadi pedoman untuk merancang dan mendirikan bangunan antara lain, tidak mengandung ornamen yang bersifat paganisme, pengaturan ruang ditujukan untuk mendukung dan menjaga akhlak dan perilaku, tidak merusak alam disekitar bangunan, hasil desain tidak menunjukkan sifat kesombongan, dan lain-lain. Bangunan-bangunan yang menerapkan Arsitektur Islam biasanya digunakan pada Masjid, Istana Kerajaan, Minaret, Makam, Benteng dan beberapa Gedung Pertemuan atau Auditorium. Didalam Penerapan desain tampilan Arsitektur Islam menerapkan beberapa elemen eksterior dan interior desain yang menjadi ciri khas Arsitektur Islam, antara lain:

  1. Arabesque; berasal dari bahasa Arab yang mengartikan motif geometris dan motif floral (tumbuhan) yang digunakan untuk ukiran hiasan interior ruangan. Tujuan penggunaan jenis motif-motif ini dikarenakan didalam ajaran Agama Islam melarang penggunaan motif hewan atau pun manusia dan jauh dari unsur pagan.
  2. Kaligrafi; adalah seni menghias huruf Arab yang ditulis atau diukir pada dinding bangunan. Tujuan penggunaan Kaligrafi selain untuk menambah keindahan bangunan, Kaligrafi juga sebagai pengingat ayat-ayat Al-Quran.
  3. Mashrabiya; adalah semacam kisi-kisi atau teralis berbahan beton atau gipsum yang digunakan dan ditempatkan pada jendela bangunan dengan bergaya Islam. Mashrabiya umumnya menggunakan motif geometris sehingga akan memperindah Arsitektur Bangunan.
  4. Kubah; Kebaradaan Kubah merupakan salah satu unsur bangunan yang menonjol dalam Arsitektur Islam. Kubah biasanya berbentuk umbi bawang atau separuh bola khas Timur Tengah. Dibagian luar dan dalam akan diberi hiasan-hiasan ukiran bermotif geomteris.
  5. Lengkung Pilar; adalah bagian bangunan bergaya Arsitektur Islam memiliki ciri khas gaya lengkung (pertemuan antara dua pilar) yang berdiri sendiri-sendiri. Didalam Seni Arsitektur Islam menggunakan 2 jenis lengkung yaitu Bentuk Lancip (Pointed Arch) dan Lengkung Tapal Kuda (horse shoe-arch).
  6. Muqarnas; adalah dekorasi tiga dimensi serupa sarang lebah yang terletak pada langit-langit bangunan. Muqarnas dapat disebut sebagai Stalaktit oleh beberapa Seniman Arsitektur Eropa. Muqarnas digunakan untuk menghias portal (pintu masuk), mihrab, interior kubah, hingga Minaret.
  7. Mihrab; adalah sebuah dekorasi interior berupa ceruk setengah lingkaran atau tempat kecil yang ada di dinding paling depan yang ditemukan pada bangunan Masjid atau Mushola yang menunjukkan arah kiblat. Mihrab juga digunakan sebagai tempat Imam memimpin ibadah Sholat.
  8. Minaret; adalah sebuah struktur Ekstetior bangunan Masjid berupa menara yang ditemukan berdekatan dengan masjid. Tujuan pendirian Struktur Minaret pada masa lampau adalah sebagai ventilasi atau lubang sirkulasi udara untuk mendinginkan ruangan Masjid. Namun saat ini Minaret menjadi sebuah simbol tradisional sebuah Masjid untuk menaruh alat pengeras suara untuk menjadi penunjuk waktu ibadah Sholat bagi umat Islam.

Didalam perkembangan Seni Arsitektur Islam yang dilihat dari gaya dan bentuknya dipengaruhi oleh berbagai Masa Kekhalifahan. beberapa Kekhalifahan dipimpin oleh beberapa Khilafah yang menegaskan Seni Arsitektur Islam dalam setiap karya bangunan yang mereka buat seperti Masjid atau Istana. Berikut ini deskripsi jenis dan bentuk serta sejarah Perkembangan Seni Arsitektur Islam di seluruh kawasan di Dunia.  

1.  Arsitektur Islam Awal

Arsitektur Islam pada masa awal perkembangan Agama Islam ditemukan dikawasan Arab Saudi pada kisaran tahun 636 - 661 Masehi. Pada Masa ini Agama Islam dipimpin oleh Khilafah Rasyidah yang menjadi Khilafah pertama mempopulerkan Seni Arsitektur Islam setelah masa Nabi Muhammad SAW. Gaya Arsitektur Islam pada periode ini masih cukup sederhana dan minim referensi terhadap gaya-gaya Arsitektur yang monumental. Corak Arsitektur pada bangunan Masjid bersifat tradisional dan tanpa ornamen yang berciri khas, yang diadopsi dari Gaya bangunnan Suku Bani Abdul Qadis. Contoh bentuk penerapan Arsitektur Islam ditemukan pada Masjid Juatha di Arab Saudi dan menjadi Masjid pertama dan Tertua di Kawasan Timur Arab Saudi.

Masjid Juatha

 

2.  Arsitektur Islam Periode Umayyah

Arsitektur Islam pada Periode Kekhilafahan Umayyah berada pada kisaran tahun 661 – 750 Masehi dan berpusat di Damaskus, Suriah. Seni Arsitektur Islam pada era ini banyak mengadopsi Gaya Arsitektur Byzantium yang dipadukan dengan Gaya Arsitektur Sassanid. Ciri khas yang ditonjolkan adalah dengan penggunaan Atap Kubah, Pelengkung Balok Pilar berbentuk Tapal Kuda, Pilar Besar dan Atap Pelana pada sebagian sudut bangunan. Selain itu pada bangunan Masjid sudah memunculkan beberapa dekorasi seperti mosaik, cat dinding, dan relief dengan motif Khas Islam. Pada periode ini Masjid telah menggunakan panggung Mihrab yang telah dipertahankan hingga saat ini.  Contoh penerapan Arsitektur Islam era Umayyah terdapat pada Masjid Agung Umayyah di Suriah,  Qubbat As-Sakhrah atau Dome of Rock di Palestina, Istana Qusayr Amra di Yordania Timur, dan lain-lain.

Istana Umayyah

3.  Arsitektur Islam Periode Abbasiyah

Arsitektur Islam Abbasiyah terjadi pada masa Kekhilafahan Abbasiyah berkembang pada kisaran tahun 750-1513 Masehi dan berpusat di Kota Baghdad, Irak. Gaya Arsitektur ini dipengaruhi oleh Arsitektur Sassanid yang telah diaplikasikan sejak masa awal perkembangan Agama Islam. Sassanid merupakan Kekaisaran terakhir Persia sebelum kedatangan Agama Islam, sehingga peninggalan Seni Arsitekturnya masih digunakan oleh Khilafah Abbasiyah. 

Masjid Ibnu Tulun

Ciri khas Arsitektur yang ditonjolkan adalah:

  1. Penggunaan Lengkung Bentuk Lancip (Pointed Arch) diantara pilar berbentuk melingkar pada bangunan Masjid atau Istana,
  2. Bentuk Bangunan yang menyerupai Benteng berbentuk persegi yang ditengah-tengahnya dapat digunakan sebagai halaman untuk melaksanakan Sholat maupun interaksi sosial.
  3. Bangunan menggunakan bahan berupa batu bata yang direkatkan dan dilapisi mortar dan lapisan kapur.

Contoh bentuk penerapan Arsitektur Islam Masa Abbasiyah ditemukan pada Masjid Al-Mansur di Baghdad, Masjid Agung dan Menara Spiral Samarra di Irak, Istana Ukhaidir di Irak, Istana Qasruzzabad, Masjid Ibnu Tulun di Mesir, dan lain-lain.


4.  Arsitektur Moorish

Arsitektur Moorish adalah Seni Arsitektur yang terinspirasi dari tradisi budaya Moor di Mahgreb dan sekitar Semenanjung Iberia. Kawasan yang terkenal dengan Arsitektur Moorish adalah Negara Spanyol saat Kekhilafahan Umayyah mencapai wilayah Utara Afrika dan Semenanjung Iberia untuk menyebarkan Agama Islam. Arsitektur Islam bergaya Moorish ditemukan pada tahun 795 Masehi dan berkembang hingga tahun 1031 Masehi saat penerapan dan pembangunan Masjid Agung Cordoba. 

Masjid Agung Cordoba

Gaya Arsitektur Moorish seperti penerapan Gaya Arsitektur Gothic pada masa Abad Pertengahan di Kawasan Roma, Italia, namun karakteristik dan ornamen berciri khas Islam dengan sentuhan Budaya Semenanjung Iberia. Ciri khas unsur dan karakteristik dari Seni Arsitektur bergaya Moorish adalah

  1. Penggunaan batu bata sebagai bahan bangunan.
  2. Lengkung berbentuk tapal kuda (horse shoe-arch).
  3. Penggunaan Voussoir.
  4. Beratap kubah.
  5. Dekorasi Tegel atau Ubin yang berwarna.
  6. Memiliki Dekorasi Taman atau Landsekap yang tertata rapi.
  7. Pada bagian Interior memiliki dekorasi yang penuh motif pada Lengkungan Pilar dan Muqarnas. Arsitektur Moorish banyak menampilkan interior yang sangat indah hingga dijuluki sebagai Beauty behind The Veil Architecture atau “kecantikan yang tersembunyi dibalik cadar”.

Contoh beberapa bentuk penerapan Arsitektur Islam Moorish diperlihatkan pada Masjid Koutoubia di Maroko; Universitas Al-Karanouine di Maroko; Masjid Ouqba di Tunisia; Masjid Agung Aljazair di Aljazair; Masjid Mezquita di Cordoba, Spanyol; Masjid Agung Sevilla di Spanyol; Kastil Alhambra di Granada, Spanyol; Kastil Algarve di Portugal, dan karya-karya Arsitektur bergaya Moorish lainnya.

 

5.  Arsitektur Somalia-Islam

Negeri Somalia secara geografis terletak di kawasan Tanduk Afrika yang berdekatan dengan Semenanjung Arab. Nenek Moyang penduduk Somalia diyakini berasal dari Arab yang menyebrang ke daratan Afrika pada kisaran abad ke-7 pada masa penyebaran Agama Islam. Penduduk Arab tersebut menetap dan berasimilasi dengan penduduk setempat dan melahirkan Bangsa Somalia kini. Hingga akhirnya Bangsa Somalia memiliki Pemerintahan dibawah Kesultanan Mogadishu yang lahir pada abad ke-10 dan diruntuhkan oleh serangan Kesultanan Arjun pada abad ke-16.

Masjid Fakr Ad-Din

Arsitektur Somalia-Islam sangat dipengaruhi oleh Kebudayaan Arab den Persia, dengan sentuhan kultur lokal dan penyesuaian terhadap penggunaan material bangunan dan kondisi cuaca di kawasan Tanduk Afrika. Masjid-masjid yang ditemukan merupakan peninggalan masjid tertua di Benua Afrika. Beberapa ciri dan karakteristik bangunan bercorak Arsitektur Somalia-Islam di kawasan Somalia antara lain:

  1. Struktur bangunan menggunakan 2 Kolom utama dan didampingi dengan pemakaian Balok Komposit yang bercorak motif-motif dekorasi.
  2. Jenis material yang banyak digunakan seperti Batu Koral, Batu Bata Sundried, dan batu kapur.
  3. Bangunan menggunakan batu-batuan yang disusun tanpa lapisan mortar.
  4. Dekorasi pada dinding Mihrab bercorak Azis Tengah.
  5. Bangunan Masjid bercorak Islam-Somalia memiliki Menara Masjid Silinder.

Beberapa contoh bangunan peninggalan Arsitektur Somalia-Islam yang dikembangkan sejak Kesultanan Mogadishu antara lain adalah Masjid Fakr Ad-Din, Masjid Arba’a Rukun, Masjid Al-Qiblatyn, Menara Mercusuar Almnara, Menara Mercusuar Jamia, dan bangunan lainnya.

 

6.  Arsitektur Mamluk

Arsitektur Mamluk berkembang dan dipopulerkan saat Kesultanan Mamluk menyebarkan Islam di Kawasan Mesir dan Suriah pada tahun 1250 - 1517 Masehi. Kesultanan Mamluk berdir sejak runtuhnya Kesultanan Ayyubiyah hingga akhirnya Kesultanan Mamluk mengalami keruntuhan saat ditaklukan oleh Dinasti Utsmaniyah (Ottoman) di Mesir. Pusat Pemerintahan Kesultanan Mamluk berada di Kota Kairo dan meninggalkan banyak warisan Bangunan bercorak Arsitektur Mamluk, sehingga Kota Kairo dijuluki 1000 menara (masjid).

Masjid Sultan Al-Nasir

Ciri Khas dan Karakteristik Seni Arsitektur Mamluk  antara lain:

  1. Bentuk Bangunan yang tidak sepenuhnya simetris.
  2. Memiliki bentuk Kubah yang khas menyerupai silinder panjang berujung meruncing setengah lingkaran.
  3. Motif-motif dekorasi dan ukiran yang digunakan berbentuk geometris dan sangat rumit. Corak motif bergaya Mamluk dikenal dengan nama Mamluk Star dan Mamluk Rose.
  4. Penggunaan Muqarnas yang penuh dekorasi rumit.
  5. Penggunaan dekorasi Kaligrafi yang Ekstensif diatas pintu masuk
  6. Penggunaan Mashrabiya
  7. Pada interior cukup minim motif-motif dekorasi. Motif dekorasi dipusatkan pada langit-langit kubah dengan tujuan agar pandangan mata pengunjung menuju ke atas dengan filosofinya surga diatas langit sebagai tujuan hidup dan pandangan manusia.

Beberapa contoh penerapan Arsitektur Mamluk dapat ditemukan pada beberapa Bangunan peninggalan Kesultanan Mamluk, antara lain Masjid dan Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir; Masjid Sultan Al-Muayyad di Kairo, Mesir; Masjid Agung Mansouri di Tripoli, Lebanon; Masjid Sultan Al-Nasir di Mesir; Masjid Aqmar di Mesir; Masjid Sultan Hasan di Mesir, dan bangunan-bangunan lainnya.

 

7.  Arsitektur Ottoman

Arsitektur Ottoman dipopulerkan dan dikembangkan pada masa Kesultanan Utsmaniyah atau Kekaisaran Ottoman yang menguasai Kawasan daratan Turki, Semenanjung Arab dan Afrika Utara pada Abad ke-14 dan semakin meluas hingga di abad ke-15. Kekaisaran Ottoman ini berpusat di Konstaninopel dan setelah merebut kekuasaan dari Kekaisaran Byzantium. Arsitektur Ottoman berpola pada Arsitektur Seljuk dari Kekhilafahan Abbasiyah dan mengadopsikan beberapa Gaya Arsitektur dari Arsitektur Byzantium, Arsitektur Mamluk dan Persia. Secara keseluruhan Arsitektur Ottoman dideskripsikan sebagai Arsitektur Seljuk dan Byzantium yang dipadukan dengan tradisi-tradisi Arsitektural Mediterania dan Timur Tengah.

Masjid Sultan Ahmed

Ciri khas dan Karakteristik Bangunan dengan sentuhan Seni Arsitektur Ottoman antara lain:

  1. Kubah atap yang sangat besar berbentuk setengah lingkaran bola.
  2. Minaret memiliki atap yang berujun runcing bergaya Byzantium.
  3. Ruangan sangat besar namun memiliki pencahayaan yang minim dan hampir gelap. Nilai filosofinya adalah Masjid bangunan yang sakral dan mengindikasi transendensi Surgawi.
  4. Dinding Masjid menggunakan corak Arabesque.
  5. Pada benteng atau pagar kerajaan Menara Pengawas menggunakan Atap Runcing bergaya Byzantium.

Beberapa contoh Bangunan peninggalan Kesultanan Utsmaniyah yang menerapkan gaya Arsitektur Ottoman antara lain Hagia Sophia di Turki, Istana Topkapi di Turki, Masjid Sultan Ahmed, Masjid Fethiye di Yunani, dan bangunan-bangunan lainnya.

 

8.  Arsitektur Mughal

Arsitektur Mughal berkembang di kawasan Afganistan hingga India dan Pakistan. Arsitektur Mughal dipopulerkan oleh Kesultanan Mughal saat menguasai India bagian Utara melalui penyebaran Agama Islam pada tahun 1526 sampai tahun 1857 Masehi. Hingga akhirnya Agama Islam menjadi Agama Resmi di Kesultanan Mughal walaupun sebagian besar penduduk setempat masih tetap memeluk Agama Hindu.

Masjid Jama

Arsitektur Mughal menggabungkan elemen asli India yang bercorak Hindu dengan Gaya Arsitektur Islam yang menjadi Struktur Arsitektur Mughal. Bangunan dibuat Simetris dan sangat presisi dan menggunakan bahan bangunan berupa Batuan Marmer. Corak-corak dekorasi pada dinding eksterior maupun interior bergaya ukiran India yang menampilkan visual Kaligrafi. Ciri khas dan karakteristik lainnya yang ditonjolkan dari Arsitektur Mughal antara lain:

  1. Bentuk Kubah yang hampir berbentuk Bola Bulat dan Besar.
  2. Menara atau Minaret yang ramping ditiap sudut bangunan.
  3. Memiliki balai besar.
  4. Gerbang berkubah besar.
  5. Hiasan dekorasi yang halus pada dinding bangunan
  6. Lengkung pilar yang digunakan berpola Lancip (Pointed Arch).

Beberapa contoh penerapan Arsitektur Mughal ditunjukkan pada bangunan-bangunan seperti Taj Mahal di Agra; Masjid Badshahi di Pakistan; Masjid Jama di Delhi, India; Makam Humayum di Delhi, India; Benteng Merah Delhi di Delhi; Benteng Alamgiri di Lahore, Pakistan; Benteng Lalbagh di Dhaka, Bangladesh; Taman Babur di Kabul, Afghanistan; dan bangunan-bangunan bergaya Mughal lainnya. 

 

9.  Arsitektur Islam Indo-Melayu

Penyebaran Agama Islam di kawasan Asia Tenggara dilakukan melalui perdagangan oleh Para Pelayar dari Semenanjung Arab dan Selatan India. Para Pelayar tersebut mencapai kawasan Nusantara lewat Pintu Gerbang Nusantara yaitu jalur Selat Malaka yang sangat ramai yang menjadi perbatasan Negeri Indonesia dan Semenanjung Malaya (Malaysia).  Perkembangan penyebarang Agama Islam diawali dengan berdirinya Kerajaan Islam pertama di Aceh bagian Utara, yaitu Kesultanan Samudra Pasai yang berdiri pada tahun 1267 Masehi di kawasan Nusantara.

Gaya Arsitektur Islam yang dikembangkan di wilayah Nusantara merupakan hasil Akulturasi dengan tradisi lokal. Bentuk dan bahan bangunan Masjid Tradisional tersebut cukup variatif karena menyesuaikan dengan kelompok etnis dan lingkungan geografis setempat. Kultur dari Kerajaan-kerajaan bercorak Hindu Budha di Nusantara membuat penyebaran Agama Islam di Indonesia khususnya di Pulau Jawa mengikuti beberapa tafsiran Bangunan bercorak Hindu-Budha untuk memudahkan pemahaman masyarakat terhadap penyebaran Agam Islam. Sementara daerah yang memiliki kultur Melayu seperti Pulau Sumatera dan Kepulauannya serta Semenanjung Malaya memiliki kultur Arsitektur Melayu Tradisional dengan bentuk Rumah Panggung dan beratap Megah. Sehingga Arsitektur Islam Indo-Melayu pada awalnya tidak memperkenalkan Arsitektur jenis baru yang bercorak Timur Tengah, tetapi menyesuaikan dari bentuk yang sudah ada dan diberi Tafsiran Ajaran Islam melalui beberapa sentuhan Dekorasi. Gaya Arsitektur Islam Indo-Melayu ditemukan dibeberapa bangunan utama seperti Masjid, Menara dan Istana Kerajaan saja. 

Masjid Kudus

Beberapa ciri khas dan karakteristik bangunan yang ditonjolkan dari Arsitektur Islam Indo-Melayu antara lain:

  1. Letak Masjid, Istana Kerajaan dan Alun-alun saling berdekatan atau berada dalam 1 kompleks.
  2. Masjid memiliki Denah berbentuk bujur sangkar.
  3. Struktur bangunan memiliki 4 pilar utama yang memiliki nilai filososif tertentu.
  4. Lantai berbentuk punden berundak yang dilengkapi dengan serambi didepan atau samping bangunan.
  5. Atap bangunan Masjid berbentuk Limas bertumpang tindih yang berjumlah 3 atau 5 yang pada puncaknya dilengkapi dengan Mustaka.
  6. Menara atau Minaret merupakan tambahan bangunan yang difungsikan sebagai tempat melantunkan Adzan. Minaret masjid bergaya Arsitektur Hindu-Budha yang menyerupai bangunan Candi. Namun ada juga Minaret yang mengadopsi gaya Arsitektur Persia berupa silinder tinggi dan berpuncak kubah.
  7. Penerapan Kaligrafi pada dekorasi dinding memadukan Seni Ukiran Jawa dengan tulisan Arab  dan Jawa Kuno.
  8. Penggunaan Gerbang yang dibuat dari susunan Batu bercorak Hindu-Budha dan menyerupai Candi menjadi sebuah ciri khas yang unik dari Arsitektur Islam Indo-Melayu.
  9. Pada bangunan Masjid bercorak Arsitektur Melayu akan menggunakan Arsitektur Tradisional seperti Rumah Gadang atau Rumah Panggung.

Beberapa contoh peninggalan Arsitektur Islam Indo-Melayu pada masa penyebaran Agama Islam awal di kawasan Nusantara antara lain Masjid Agung Demak di Jawa Tengah, Masjid Menara Kudus di Jawa Tengah, Masjid Tuo Kau Jao di Sumatera Barat, Masjid Baiturrahman di Aceh, Masjid Mantingan di Jawa Tengah, Masjid Agung Banten di Banten, Masjid Agung Sang Ciptarasa di Jawa Barat, Masjid Kunchen Madiun di Jawa Timur, dan bangunan-bangunan lainnya.

 

Seni Arsitektur Islam mengalami banyak perubahan setelah awalnya merupakan Akulturasi budaya setempat dan kembali bercorak Timur Tengah yang disesuaikan dengan Agama Islam itu berasal. Perubahan tersebut diakomodasi melalui pemahaman masyarakat yang menganut Agama Islam untuk mengembalikan identitas Agama Islam melalui bangunan Masjid yang berarsitektur Islam. Namun Arsitektur hasil akulturasi tetap dipertahankan dan dirawat sebagai sebuah warisan sejarah penyebaran dan perkembangan Agama Islam di berbagai kawasan di Dunia.

Demikian deskripsi singkat tentang Arsitektur Islam dan Sejarah Perkembangannya dengan berbagai variasi gaya dan corak. Artikel terkait lainnya silahkan mengunjungi laman tegaraya.com.

LihatTutupKomentar