-->

Jenis-jenis Tarian Tradisional dari Indonesia yang Terkenal dan Mendunia

Negeri Indonesia yang memiliki banyak hasil kebudayaan dikarenakan keragaman suku dan etnis yang menempati tiap-tiap Pulau dan Daerah. Ragam hasil budaya tersebut salah satunya adalah bentuk apresiasi Seni Tari. Tari-tarian Tradisional yang beragam di Indonesia ditemukan dari bagian barat hingga ke bagian Timur Indonesia. Berbagai Pulau tersebut akan menunjukkan beberapa tarian yang terkenal dan menjadi ciri khas kebudayaan yang sangat kaya dan beragam tersebut.

Tarian-tarian Tradisional dari Indonesia cukup dikenal dan digemari. Media pariwisata menjadi salah satu sarana untuk mempopulerkan Tarian Tradisional tersebut karena keragaman dan keunikan yang dipertunjukkan. Beberapa Tarian Tradisional Indonesia bahkan telah dipertontonkan di Festival Internasional dan menjadi sangat dikenal di Dunia.

Berikut ini adalah daftar rangkuman beberapa keragaman jenis Tarian Tradisional dari Negeri Indonesia yang Terkenal dan bahkan sudah mendunia.

   

1.  Tari Saman

Tari Saman adalah jenis Tarian yang sangat terkenal yang berasal dari Provinsi Aceh. Beberapa literasi menyebutkan Tari Saman dikembangkan oleh seorang Syekh dari Gayo di Aceh Tenggara yang bernama Syekh Saman. Syair-syair yang yang dilantunkan dalam Tarian Saman menggunakan bahasa Gayo. Tarian tradisional khas Aceh ini ditampilkan untuk memperingati peristiwa penting seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, upacara adat, dan pertunjukkan Kenegaraan. Tari Saman telah diakui di Dunia dan ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu Hasil Kebudayaan Warisan Dunia pada November 2011 lalu.


Tarian Saman dimainkan oleh kelompok belasan atau puluhan laki-laki atau perempuan, tetapi harus berjumlah ganjil. Penampilan Tari Saman dibuka dengan sebuah monolog petuah atau nasehat oleh seorang Tua Cerdik Pandai. Beliau akan menyampaikan nasihat-nasihat kepada para penari dan penonton. Kemudian Tarian Saman ditampilkan tanpa iringan musik, namun menggunakan suara lisan dan tepuk tangan yang dikombinasikan tepukan di dada dan pangkal paha dari para penari. Para penari Saman akan menyingkronkan irama suara dan tepukan tersebut dengan hempasan tubuh ke berbagai arah.

 

2.  Tari Tortor

Tari Tortor merupakan jenis tarian Suku Batak Toba yang berasal dari Provinsi Sumatera Utara. Tari Tradisional Tortor merupakan tarian yang menyajikan interaksi antara partisipan tarian dan penonton. Tari Tradisional Tortor ditampilkan sebagai sarana penyampaian batin kepada roh para leluhur maupun kepada tamu -tamu yang dihormati dalam pertunjukkan tersebut. Tari Tortor memiliki kesan mistis yang dilarang dimainkan secara sembarangan dengan beberapa aturan yang akan diingatkan oleh para Tetua Adat.


Tari Tortor sangat lekat dengan musik tradisional Gondang. Tarian Tortor dibuka dengan acara khusus bernama Tua ni Gondang yang dilakukan oleh Hasuhutan atau Tuan Rumah sebagai penyelenggara acara. Sang Tuan Rumah akan menyampaikan Hajat kepada penabuh musik Gondang yang diselingi dengan Pukulan Gondang dengan berbagai ritme yang memiliki arti yang beragam. Setelah pelaksanaa Hajat selesai, Tarian Tortor dimulai oleh para barisan keluarga Sang Tuan Rumah dengan berdiri dan menari. Para penari Tortor tersebut menggunakan kain Ulos sebagai busana tambahan.

 

3.  Tari Piring

Tari Piring adalah Tarian Tradisional Minangkabau yang berasal dari Provinsi Sumatra Barat. Tarian tradisional ini dipopulerkan oleh seorang Koreografer Tari bernama Hiruah Adam yang memadukan tarian tradisional dan pencak Silat Minangkabau atau Silek. Keunikan Tarian ini adalah menggunakan properti berupa sebuah piring yang diletakkan diatas kedua tangan para penari. Tari Piring dipertunjukkan untuk penyambutan tamu terhormat atau pembukaan upacara adat. Tarian ini merupakan Tarian yang terkenal dari Indonesia dan sering dipertunjukkan untuk promosi Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia.


Tarian Piring pada awalnya adalah tarian ritual ucapan syukur kepada para Dewa oleh masyarakat setempat paska panen Padi yang berlimpah. Tarian Piring menampilkan atraksi penari yang memainkan piring-piring yang dipegang oleh masing-masing penari. Jumlah penari yang ditampilkan biasanya berjumlah ganjil yang terdiri dari tiga hingga tujuh penari. Para penari akan menggunakan busana berwarna cerah dan pentup kepala. Para penari mengayunkan piring ditangan dengan mengikuti irama musik tradisional Talempong dan Saluang, dengan gerakan yang cepat dan teratur, tanpa satu piring pun yang terlepas dari tangan mereka.  Pada akhir pertunjukkan, para penari akan melemparkan piring ke atas lantai dan mereka akan menari diatas pecahan piring tersebut.

 

4.  Tari Cokek

Tari Cokek merupakan jenis tarian tradisional khas Betawi yang berasal dari Provinsi DKI Jakarta. Tarian ini ditemukan sejak abad ke-19 ketika Pedagang asal Tiongkok bernama Tan Sio-Kek mencapai kawasan Batavia dan menetap. Kebiasaan Tan Sio-Kek yang suka membuat acara pertunjukkan Musik Tradisional khas Tiongkok yang dipadukan dengan Alat Musik Betawi seperti Suling, Gong dan Kendang, menciptakan sebuah inovasi kontemporer terhadap Tarian yang diberi nama Cokek, yang terinspirasi dari namaa Tan Sio-Kek. Tarian ini diyakini merupakan paduan dari budaya Tari Tradisional Tiongkok, Sunda-Betawi dan Seni Pencak Silat yang diiringi oleh musk tradisional Gambang Kromo. 


Penampilan Tari Cokek dibuka dengan sebuah pertunjukkan wawayangan. Kemudian para penari Cokek mulai bergerak berjejer memanjang maju dan mundur mengikuti irama tabuhan musik Gambang Kromo. Setiap penari akan dilengkapi dengan Selendang yang dikalungkan pada leher Penari Wanita. Setelah itu para penari akan mengajak para tamu atau penonton untuk ikut menari dengan mengalungkan selendang ke leher mereka. Ketika para tamu atau penonton tersebut ikut menari, mulailah Tarian akan dilakukan secara berpasangan.  

 

5.  Tari Topeng

Tari Topeng adalah tarian tradisional yang berasal dari Cirebon di Provinsi Jawa Barat. Tarian ini merupakan tarian tradisional asli dari Kesultanan Cirebon yang ditampilkan untuk Acara Adat seperti Hajatan Desa, Pernikahan, Khitanan masyarakat, atau Pagelaran Bebarengan. Keunikan dari Tarian Topeng adalah penggunaan Topeng dengan berbagai jenis karakter yang digunakan oleh Penari. Penari Topeng ini disebut dengan nama Dalang. 


Tari Topeng memiliki banyak keragaman jenis penampilan, jenis musik pengiring, gerakan dan tujuan pementasan. Hal itu disebabkan Tarian tradisional ini banyak ditemukan dari beberapa Desa dibawah Kesultanan Cirebon dan setiap Desa memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Selain itu Tari Topeng diinovasikan menjadi lebih menarik untuk tujuan hiburan yang mengikuti perkembangan jaman dan selera para penonton. Beberapa jenis gaya Tari Topeng antara lain adalah; Gaya Beber, Gaya Brebes, Gaya Celeng, Gaya Cibereng, Gaya Cipunegara, Gaya Gegesik, Gaya Gujek, Gaya Kalianyar, dan gaya-gaya lainnya. Jenis-jenis topeng yang digunakan untuk pementasan Tari Topeng pun cukup beragam dan memiliki makna ekspresi dan karakter yang berbeda-beda, seperti Tembem, Patrajaya, Prasanta, Sabdapalon, Pentul, Sadugawe, Nayagenggong, dan karakter-karakter lainnya.

 

6.  Tari Jaipong

Tari Jaipong atau dikenal dengan nama Jaipongan adalah jenis tari tradisional Sunda yang terkenal dari Karawang di Provinsi Jawa Barat. Jaipongan dipopulerkan oleh H. Suanda yang dibawa ke kota Bandung pada tahun 1976 melalui kontemporesasi beberapa seni yang terdiri dari elemen pencak silat, wayang golek, topeng banjet, ketuk tilu, dan lain-lain. Jenis tarian tradisional ini ditampilkan sebagai hiburan rakyat dan tari pergaulan hingga menjadi tarian untuk menyambut tamu adat dan tamu kenegaraan. Tari Jaipong sangat dikenal di Indonesia dan bahkan mendunia. Bahkan Tari Jaipong sangat sering ditampilkan di media Televisi dan dikolaborasikan dengan beberapa kesenian tarian dan musik modern.


Pada awalnya Pertunjukkan Tari Tradisional dimainkan secara tunggal oleh Penari Wanita. Kemudian Jaipongan berkembang menjadi tarian berkelompok hingga berpasangan dengan Penari Laki-laki. Ciri khas gerakan dari Tari Jaipong adalah gaya kaleran yang menunjukkan ekspresi keceriaan, erotis, humor, semangat, spontanitas dan kesederhanaan.  Gerakan dalam tarian ini yang menonjolkan gerakan tangan, bahu dan pinggul yang digerakkan secara seirama mengikuti aba-aba dari tabuhan Kendang. Pada saat menari, para Penari tersebut melakukan sedikit gerakan atraksi yang energik dengan formasi yang berpindah-pindah. Pola gerakan yang atraktif namun luwes tersebut memiliki nilai pesan yang menunjukkan sifat semangat dan berani, namun berpegang teguh pada nilai etika dan kesopanan masyarakat Jawa Barat.

 

7.  Tari Serimpi

Tari Serimpi atau dikenal dengan Srimpi merupakan tarian tradisional Jawa Klasik yang berasal dari Keratonan Kesultanan Mataram di Provinsi Jawa Tengah. Tarian Serimpi dikenal luas dan dipraktekkan hingga ke Keratonan Surakarta dan Keratonan Yogyakarta. Tari Serimpi merupakan salah satu tarian klasik yang cukup tua dan sakral , sehingga tidak semua orang boleh mementaskannya. Tari Serimpi ditemukan sejak tahun 1613-an saat Sultan Agung memerintah Keratonan Mataram. Penari Tarian Serimpi dipilih oleh orang-orang Keraton untuk ditampilkan didepan Raja. Tarian Serimpi ditampilkan untuk Ritual Kerajaan seperti penasbihan Raja, Hajatan Kerajaan dan acara-acara Kerajaan lainnya. 


Tari Serimpi memiliki berbagai ragam jenis antara lain Tari Serimpi Babul Layar, Serimpi Dhempel, Serimpi Gunjung, Serimpi Anglir Mendung, Serimpi Bondan, Serimpi Pondelori, dan beragam jenis Tarian Serimpi lainnya. Penyajian Tarian Serimpi menampilkan empat penari wanita dan satu penari utama yang diberi nama Putri Renggawati, dengan gerakan yang gemulai, lembut dan anggun yang diiringi oleh Musik Tradisional Gamelan. Gerakan-gerakan Tarian Serimpi mengartikan kesopanan, kehalusan budi, dan kelemahlembutan. Para Penari menggunakan busana Khas Jawa berupa baju tanpa lengan dibagian atas dan kain jarik bermotif baik di bagian bawah.

 

8.  Tari Reog Ponorogo

Tari Reog Ponorogo adalah jenis tari yang terkenal dan unik yang berasal dari Kabupaten Ponorogo di Provinsi Jawa Timur. Tari Reog merupakan Kesenian Tari yang berumur cukup tua yang ditemukan sejak abad ke-15 yang dipopulerkan oleh seorang Seniman dari Kerajaan Majapahit yaitu Ki Ageng Kutu. Tari Reog masih sangat kental dengan unsur mistik dan ilmu-ilmu kebatinan yang kuat. Tarian Reog ditampilkan sebagai hiburan rakyat dan dipertontonkan di lapangan terbuka sehingga akan dikelilingi oleh para penonton. Tari Reog Ponorogo sangat terkenal di berbagai kawasan di Indonesia, bahkan pernah diklaim oleh beberapa Negara sebagai warisan kebudayaan mereka. Namun Tari Reog tetap dikenal sebagai warisan Kebudayaan Indonesia dan sedang menunggu pengakuan dari UNESCO.


Reog memiliki asal usul sejarah yang menjadi lakon pertunjukkan Tarian Reog. Lakon asal usul Reog adalah Kisah Kelana Sewandana, seorang Raja dari Banter Angin yang ingin mempersunting seorang Putri dari kerajaan Kediri bernama Dewi Dyah Ayu Sangga Langit. Sang Putri menerima lamaran tersebut dengan syarat Sang Raja harus bisa mengalahkan Singa Barong yang menguasai Hutan. Sang Raja dapat mengalahkan Singa Barong tersebut dengan sebuah Kesaktian merubah diri menjadi Burung Merak. Melalui cerita ini Tarian Reog menampilkan Penari Utama yang membawa Topeng Singa berbulu Merak yang sangat besar. Tarian Reog memiliki penampilan yang atraktif seperti pertunjukkan sirkus. Didalam penampilan Tarian Reog selain menampilkan tokoh karater Singa Barong, tokoh-tokoh lainnya antara lain Warok yang menggambarkan rakyat Ponorogo, Jathil sang Ksatria penunggang Kuda Lumping, Bujang Ganong si Buruk Rupa yang Energik dan Klono Sewandono sebagai seorang Raja Penakluk Singa Barong.

 

9.  Tari Kecak

Tari Kecak atau Ketjak merupakan pertunjukkan dramatisasi Khas Bali yang berasal dari Provinsi Bali. Tarian ini diambil dari Ritual Tari Sanghyang yang diinovasikan menjadi Tarian Kecak oleh Seniman Tari bernama Wayan Limbak pada tahun 1930-an. Tarian ini awalnya bersifat mistik dengan tujuan ritual suci untuk penyembahan kepada Dewa. Lakon Ramayana yang dijadikan Objek utama penampilan Tari Kecak ditambah dengan Penari Pendukung disekililingnya. Konon Tarian ini sudah diperkenalkan diberbagai kawasan Dunia saat Wayang Limbak beserta rombongan penarinya berkeliling dunia untuk mempopulerkan Tarian Kecak. Tarian ini sangat dikenal dan menjadi tontonan para Wisatawan dari berbagai Negara yang mengunjungi Pulau Bali.


Tarian Kecak mempertontonkan penampilan puluhan laki-laki yang duduk berbaris melingkar dengan mengangkat kedua tangan ke atas. Penari tangan tersebut menggunakan bawahan jarik kotak-kotak berwarna hitam putih bermotif seperti papan catur. Para Penari tangan tersebut akan bersahut-sahutan dengan sebuah irama tertentu yang berartikulasi lisan “Cak-cak”.  Ditengah lingkaran penari duduk tersebut terdapat tokoh utama atau karakter yang memainkan lakon Ramayana tentang Pertempuran Rama melawan Rahwana yang dibantu oleh Ksatria Kera Hanoman untuk menyelamatkan Putri Shinta. Kemudian ada suatu momen para penari pendukung yang melingkar akan menutup penari utama dengan tangan-tangan mereka dan kembali membuka dengan kejutan-kejutan yang ditampilkan setelahnya. Tarian Kecak tidak diiringi dengan musik daerah, namun akan terdengar suara irama yang berasal dari krincingan yang terikat di kaki Penari Utama dan sahut-sahutan suara “Cak-Cak”.

 

10.  Tari Manasai

Tari Manasai adalah jenis Tari Tradisional suku Dayak Ngaju yang terkenal dari Provinsi Kalimantan Tengah. Tarian Manasai adalah jenis tarian ringan yang bertujuan untuk pergaulan rakyat adat Dayak. Tarian ini melambangkan kebahagiaan dan keceriaan yang dipertontonkan saat menyambut Tamu Kehormatan yang mengunjungi Pulau Kalimantan. Tarian Manasai juga menjadi simbol persatuan Masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah dan menyatukan perbedaan dengan Etnis lain yang menetap di Kalimantan Tengah. Tarian Manasai memiliki nilai-nilai Keramahan khas Suku Dayak.


Tarian Manasai dimainkan oleh penari atau masyarakat dengan membentuk lingkaran yang mengelilingi sebuah Guci atau Tiang yang berumbul-umbul kain. Lingkaran akan semakin besar seiring dengan jumlah penari yang semakin banyak. Tarian ini awalnya akan dibuka oleh penari utama yang berbusana Khas Suku Dayak Ngaju dan dilengkapi dengan selendang, yang kemudian akan mengajak masyarakat atau penonton untuk ikut menari Manasai dan membentuk lingkaran besar. Gerakan Tarian Manasai sangat sederhana dan anggun, dengan peserta tarian akan melambaikan dan mengayunkan kedua tangan. Lingkaran tersebut akan berputar ke arah kanan mengikuti irama Musik Tradisional. Jenis lagu yang dimainkan untuk mengiringi Tarian Manasai adalah lagu Manasai yang diciptakan oleh seorang Seniman bernama Wolten Rudji.

 

11.  Tari Gong

Tari Gong atau juga disebut Tari Kancet Ledo merupakan tarian tradisional adat Suku Dayak Kenyah yang berasal dari Provinsi Kalimantan Timur. Tari ini biasanya dipertunjukkan untuk menyambut Tamu Adat atau Tamu Kenegaraan serta ritual upacara penyambutan kelahiran anak kepala Suku Dayak Kenyah. Tari Gong menceritakan tentang seorang Gadis cantik yang diperebutkan oleh 2 orang Pemuda Dayak karena kecantikan dan keanggunannya.


Julukan Tarian Gong didapat karena keunikan dari Tarian ini adalah Sang Penari yang menari dan melambaikan kedua tangan dengan properti berupa bulu burung Enggang yang dipegang dikedua tangannya, kemudian menari di atas Gong besar. Tari ini ditampilkan oleh Penari Utama seorang gadis berbusana Adat Dayak Kenyah yang diiringi musik tradisional berupa Gong dan Sampe. Awalnya Penari menari diatas lantai, kemudian berjalan pelan menuju Gong dan berdiri diatasnya, hingga akhirnya turun kembali ke atas lantai. Tari Gong menunjukkan sebuah simbol kecantikan, kepandaian dan kelembutan seorang wanita yang terungkapkan dari gerakan yang anggun dan penuh kelembutan.

 

12.  Tari Maengket

Tari Maengket adalah jenis tarian tradisional yang berasal Minahasa di Provinsi Sulawesi Utara. Tarian ini merupakan tarian rakyat yang bertujuan sebagai ungkapan syukur kepada Para Dewa atas hasil panen yang melimpah di kawasan Mihasa. Namun pada dewasa ini Tarian Maengket juga ditampilkan untuk menyambut Tamu Adat dan Tamu Kenegaraan. Tari Maengket juga menjadi daya tarik Pariwisata untuk para Turis Internasional yang berkunjung ke Sulawesi Utara. 


Tarian Maengket ditampilkan secara berkelompok dengan jumlah yang banyak. Penari Tarian Maengket bisa berupa kelompok laki-laki, perempuan atau campuran. Penari Maengket akan menggunakan busana Adat Minahasa berwarna putih. Gerakan Tarian sangat sederhana dengan iringan alat musik tradisional Tambur, Tofu dan Kolintang.

 

13.  Tari Bolelebo

Tari Bolelebo merupakan tari tradisional yang ditemukan berasal dari Pulau Flores di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tarian ini menceritakan tentang kecintaan rakyat Flores terhadap tanah air dan kampung halamannya ketika merantau keluar daerah. Tari ini biasanya ditampilkan untuk menyambut kedatangan Tamu Adat atau Tamu Kenegaraan. Tarian Bolelebo merupakan salah satu dayak tarik Pariwisata bagi Turis-turis Internasional yang berkunjung ke pulau-pulau Ekstotis di NTT.


Tarian Bolelebo dibawakan oleh laki-laki dan perempuan secara berkelompok atau massal yang menggunakan Busana Adat Suku Rote. Tarian ini diiringi dengan lagu yang juga berjudul Bolelebo dan alat musik tradisional NTT. Para penari juga akan dilengkapi dengan properti berupa tongkat panjang untuk dimainkan dalam tarian tersebut.

 

14.  Tari Cakalele

Tari Cakalele adalah jenis tarian tradisional yang berasal dari Kepulauan Maluku di Provinsi Maluku. Tarian Cakalele merupakan tarian yang melambangkan keberanian dan Patriotisme Rakyat Maluku serta penghormatan terhadap nenek moyang yang menjadi penjelajah lautan. Tarian Cakalele juga diartikan sebagai tarian perang yang menjaga wilayah Maluku. Tarian Cakalele ditampilkan untuk upacara adat dan menyambut tamu-tamu Adat yang berkunjung ke Maluku. 


Tari Cakalele biasanya menampilkan kelompok penari Laki-laki dan Perempuan yang berjumlah 30 orang atau lebih. Tarian ini dimainkan secara berpasangan dengan properti yang digunakan berupa Parang dan Salawaku (Tameng) oleh Penari Laki-laki dan Lenso (sapu tangan) oleh Penari Perempuan. Para penari Cakalele diiringi oleh alat musik tradisional berupa Drum, Flute, dan Bia.

 

15.  Tari Musyoh

Tari Musyoh merupakan jenis tarian tradisional Rakyat Papua yang ditemukan berasal dari Provinsi Papua. Tari Musyoh merupakan jenis tarian sakral yang memiliki tujuan Adat untuk mengusir Roh Gentanyangan di tempat tinggal mereka. Namun dewasa ini Tarian Musyoh digunakan sebagai Tarian sukacita yang ditampilkan untuk menyambut Tamu Adat dan Tamu Kenegaraan yang berkunjung ke Tanah Papua yang indah. Tarian Masyoh menjadi simbol rasa hormat dan terimakasih terhadap Para Tamu tersebut.


Tarian Musyoh memiliki 2 jenis koreografi yang menyesuaikan dengan tujuan pertunjukkan. Apabila Tarian ini ditujukan untuk mengusir Roh Jahat, maka yang menari adalah kelompok Laki-laki. Namun ketika Tarian ini ditujukan untuk menyambut Para Tamu yang berkunjung, Tarian Musyoh akan menyajikan kelompok Penari yang diisi oleh Penari Laki-laki dan Perempuan. Busana yang mereka gunakan adalah Busana sederhana khas Suku Papua berupa kulit kayu dan akar pohon. Kemudian diwajah para penari akan diberi coretan menggunakan kapur sebagai suatu ciri khas yang unik. Para penarik akan bergerak dengan energik dan lincah yang mengikuti iringan alat musik tradisional berupa Tifa.

 

Banyak jenis-jenis tarian tradisional dari Indonesia diluar dari daftar diatas. Ragam jenis Tari-tarian tradisional yang berasal dari Indonesia merupakan sebuah warisan budaya yang sangat berharga. Tarian-tarian tersebut sudah mendunia dan menjadi daya tarik yang membuat para wisatawan berkunjung ke Indonesia dan mengenal jenis-jenis tarian tradisional khas Indonesia. Demikian deskripsi singkat tentang Ragam Jenis Tarian Tradisional dari Indonesia yang Terkenal dan sudah Mendunia. Artikel terkait lainnya silahkan cek di laman tegaraya.com

 

LihatTutupKomentar