Seni Arsitektur periode Abad Pertengahan di Eropa

Era Abad Pertengahan di Eropa adalah Periode Perkembangan Seni Arsitektur yang semakin pesat dan maju. Perkembangan Teknologi diberbagai bidang berkat penemuan-penemuan diberbagai bidang termasuk Seni Arsitektur. Banyak aliran Arsitektur yang berkembang karena pengaruh dari persebaran Agama dari Timur Tengah dipadukan dengan gaya klasik Eropa. Secara Utilitas Arsitektur bangunan yang dibuat sebagai pusat hunian bangsawan dan pertahanan kerajaan pada era tersebut.
Abad Pertengahan atau The Middle Ages adalah periode sejarah klasik di Eropa yang berkembang pada Awal Masehi dan Perkembangan Agama Kristen di Eropa. Periode ini ditandai dengan runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat yang berpusat di Kota Roma dan kejayaannya beralih ke Kota Konstantinopel. The Middle Ages didefinisikan sebagai kurun waktu peralihan dari Abad Kuno ke Zaman Modern pada yang dideskripsikan pada kisaran tahun 313 M – 1500 M sejak Agama Kristen diterima secara legal oleh Kekaisaran Romawi Timur.  
Gejolak Kekaisaran Romawi tersebut membuat beberapa pengaruh budaya mempengaruhi gaya Arsitektur di Eropa pada abad Pertengahan. Abad Pertengahan memiliki banyak warisan gaya Arsitektur yang memiliki ciri khas tersendiri pada tiap-tiap periodenya. Berikut ini adalah periode waktu perkembangan Seni Arsitektur pada era Abad Pertengahan di Eropa.

1.   Masa Kristen Awal
Periode ini berkisar pada rentang waktu tahun 313 – 395 Masehi. Perkembangan Agama Kristen sejak dilegalkan oleh Kaisar Konstantinopel di Kerajaan Romawi Timur membuat beberapa bangunan besar kerajaan didominasi dengan pemahaman religi.  Kebanyakan bangunan dibangun ditonjolkan untuk kepentingan agama. Masa Kristen Awal adalah perakitan awal Arsitektur Romawi.
Basilika St. Petrus
Salah satu bentuk aplikasi bangunan pada masa Kristen awal adalah Basilika. Basilika pada awalnya adalah Gedung Pengadilan pada Masa Romawi Kuno yang masih menganut Politeisme, kemudian dberalih fungsi menjadi Bangunan untuk kepentingan peribadatan.  Bangunan besar dan kokoh menunjukkan Nilai Tuhan yang Agung, Sakral, Suci, Magis dan Religius. Interior yang ditampilkan berupa hiasan ornamen atau gambar tentang cerita tokoh Para Rasul.
Terdapat beberapa karakteristik bangunan yang ditunjukkan melalui pembangunan bangunan Keagamaan (Gereja) saat itu, antara lain:
  1. Denah berbentuk segi empat simetris, dengan perbandingan panjang sama dengan dua kali lebar.
  2. Bangunan cukup luas untuk menampung jumlah umat yang besar.
  3. Bentuk intetior seperti lorong panjang disebut Nave, yang memberi pandangan kepada umat untuk lurus ke bagian depan yang disebut Altar atau Bema.
  4. Intetior ruangan terdiri dari sebuah ruangan besar ditengah Nave yang diapit oleh “gang” yang disebut Aisle yang dibatasi oleh deretan kolom.
  5. Eskterior bangunan memiliki pilar-pilar kolom yang berciri khas gaya Romawi Kuno.
  6. Fitur atap Kubah telah diperkenalkan secara sederhana yang diletakkan diatas bukaan denah berbentuk lingkaran.
Beberapa contoh bangunan yang dibuat pada Masa Kristen Awal adalah Basilika St. Clamente, Basilika St. Appolinare, dan Basilika St. Petrus.

2.   Masa Byzantium
Periode Byzantium berkisar pada rentang waktu antara tahun 395 – 1100 Masehi. Masa Byzantium merupakan sebuah periode perkembangan Seni Arsitektur yang hadir saat Kekaisaran Romawi mulai runtuh dan berpindah pusat Pemerintahannya ke Eropa Timur. Masyarakat Eropa pada masa ini memiliki karya seni Arsitektur yang mengedepankan aspek Keagamaan, Kerajaan, dan Pertunjukkan Hiburan Rakyat. Bangunan-bangunan monumental yang mereka buat saling berdampingan dan memiliki Plaza luas atau Jalan protokol menuju Pusat Kerajaan. Plaza tersebut sering difungsikan untuk kepentingan Upacara Kenegaraan dan Keagamaan. 
Hagia Sophia
Beberapa ciri khas dan karakteristik dari Bangunan Periode Byzantium saat itu antara lain:
  1. Denah berbentuk Basilika, Salin atau Polygon.
  2. Bahan bangunan utama adalah bata, disusun berdasarkan pola dekoratif atau dilapis plesteran mortar.
  3. Atap ditutup dengan lapisan Timah.
  4. Eksterior bangunan terlihat cukup sederhana, datar dengan jendela yang kecil dan berteralis.
  5. Interior bangunan dipenuhi dengan mosaik dengan berbagai ragam warna. Mosaik tersebut menghiasi dinding, kubah dan langit-langit yang didominasi warna biru atau emas.
  6. Gambar mosaik adalah cerita dari Kisah Injil dan Epos Kekaisaran.
  7. Kolom bangunan memiliki banyak ornamen dan ukiran yang berciri khas Kekaisaran Romawi Timur.
  8. Atap Berbentuk Kubah sangat ditonjolkan yang diletakkan diatas bukaan denah berbentuk persegi.
Bangunan yang terkenal dan beberapa menjadi ikon Arsitektur bergaya Byzantium adalah Gedung Hypodrom (gedung pertunjukkan hiburan rakyat), Istana Suci Kekaisaran Byzantium, dan Gereja Hagia Sophia.


3.   Masa Romanesque
Periode Romanseque merupakan rentang waktu antara 1100 – 1200 Masehi. Masa Romanesque dijuluki masa Dark Ages yang menunjukkan sebuah periode tanpa perkembangan Seni Arsitektur yang benar-benar menunjukkan ciri khas pada masa itu. Para Seniman Arsitek pada masa itu hanya meniru beberapa karya lama dari masa Romawi Kuno dan mencampurnya dengan ide-ide dari Bangunan Keagamaan.  Masa Romanesque dapat dikatakan perpaduan fitur dari bangunan Romawi Kuno dengan Gaya Byzantium.
Cathedral of Pisa
Beberapa ciri khas dan karakteristik dari Bangunan Kerajaan dan Gereja pada Periode Romanesque saat itu antara lain:
  1. Denah Bangunan berbentuk simetris berpola lingkaran, segi empat atau segi delapan. Namun pada Gereja Denah Gereja berbentuk Salib, dengan Altar terletak di Timur (menghadap Yerusalem).
  2. Gereja Romanesque memiliki karakteristik busur lengkung, yang terlihat pada pintu, jendela, gang-gang Arcade, langit-langit, dan lainnya.
  3. Langit-langit menggunakan material berbahan batu menggantikan material kayu yang mudah terbakar pada masa itu. Struktur langit-langit terdapat 2 jenis yaitu Barrel Vault (sederhana) dan Cross Vault (Busur Bersilang).
  4. Kolom-kolom besar yang disebut Capital Coloumn, dibuat dengan dasar order Romawi atau desain khas Romanesque. Kolom Romanesque berbentuk masif dan kokoh karena untuk mendukung konstruksi atap dan kubah yang berat. Bentuk kolom Capital terinspirasi dari Gaya Corinthian.
  5. Pintu masuk pada Bangunan Gereja didekorasi dengan dinding yang tebal ke arah dalam menyerupai lorong. Diatas pintu masuk memiliki fitur relief yang disebut Tympanum. Relief Tympanum biasanya menggambarkan penggalan cerita dari Injil.
  6. Jendela terlihat kecil dan sempit. Susunan kolom, busur dan pahatan dekorasi di sekeliling jendela membuatnya terlihat lebih besar.
  7. Pada interior ruangan tidak terdapat kursi, umat beribadah dengan berdiri.
  8. Fitur atap berbentuk kerucut meruncing ke atas.
  9. Bangunan gereja memiliki 2 menara tinggi di bagian depan.
  10. Pada Bangunan Gereja Romanesque memiliki fitur ruang bawah tanah yang disebut Crypt. Ruangan bawah tanah ini difungsikan untuk menyimpan beberapa peninggalan dari para Santo (Orang Kudus).
Beberapa contoh bangunan yang terkenal dengan gaya Arsitektur Romanesque antara lain Catedral of Lisbon di Portugal, Katedral Pisa dan Menara Pisa di Italia, Perigueux Cathedral di Prancis, Katedral Spreyer di Jerman, dan lain-lain.


4.   Masa Gothic
Periode Gothic berada pada rentang waktu antara 1200 – 1500 Masehi. Masa Gothic merupakan masa perkembangan dan wujud evolusi Seni Arsitektur yang lebih modern daripada periode-periode sebelumnya. Arsitektur bergaya Gothic sebagian besar banyak diterapkan pada bangunan-bangunan keagamaan seperti Gereja, Biara dan Pastoral, kemudian juga ditampilkan pada banguna kerajaan seperti Kastil, Istana, Balai, Universitas, dan lainnya. Pada masa ini menjadikan profesi Arsitek dan para Seniman Bangunan memiliki tim kerja yang mampu melakukan proyek pembangunan gedung antar kota dan sangat dihargai.
Reims Cathedral
Seni Arsitektur pada bangunan Gereja sebagai perwujudan keyakinan Kristen ditampilkan sangat mewah dan modern. Salah satu aplikasi perkembangan Seni Arsitektur pada bangunan yang terkenal di Periode Gothic adalah Katedral.  Katedral merupakan bangunan penting bagi kota di Eropa pada Abad Pertengahan dan dijadikan sebuah simbol kemajuan kebudayaan dan karya seni. Gaya Gothic memiliki ciri khas yang berbeda dengan Masa Romanesque dengan menonjolkan struktur bangunan yang tinggi, lengkungan runcing, kubah bergaris dan Vault bertulang dengan bukaan yang melebar. Perkembangan ini membuat dekorasi bangunan menjadi lebih rumit dan kaya dibandingkan periode-periode terdahulu.
Ciri khas dan karakter Bangunan terutama Gereja antara lain adalah sebagai berikut:
  1. Filsafat Arsitektur bergaya Gothic adalah Vertikalisme, Transparan dan Diafan.
  2. Denah Katedral berbentuk Salib. Sementara pada bangunan Kastil atau Istana Kerajaan berbentuk persegi panjang yang dikelilingi dinding pagar yang tinggi.
  3. Atap berbusur Lancip yang mengarah vertikal dan bergaya Vernakular Khas Eropa. Gaya atap ini diterapkan pada bangunan Gereja dan Kastil Kerajaan.
  4. Bangunan Kastil memiliki banyak menara pengawas dengan atap lancip vertikal.
  5. Pintu masuk memiliki banyak ornamen relief yang rumit.
  6. Kolom-kolom bangunan Katedral dilengkapi dengan ukiran patung-patung, namun bukan bagian dari struktur bangunan. Hal ini juga ditemukan pada Istana Kerajaan.
  7. Berkembangnya Seni Kaca Patri (Clear Strorey) yang dipasang pada dinding bangunan yang menandakan perkembangan teknologi bangunan yang menggunakan material kaca.
  8. Bagian Depan Katedral terdapat dua menara utama yang simetris disamping kiri dan kanan. Menara ini difungsikan untuk menggantung lonceng Gereja atau Katedral.
  9. Eksterior tampak depan Katedral memiliki fitur jendela berbentuk lingkaran besar dengan mosaik lukisan pada kaca. Jendela ini menjadi ciri khas bergaya Gothic yang disebut jendela Rose Window.
Beberapa bangunan terkenal yang menjadi simbol perkembangan Seni Arsitektur bergaya Gothic antar lain adalah Katedral Reims di Prancis, Katedral Peterborough di Inggris, Gothic Cathedral of Palma di Palma, Katedral Cologne di Jerman, Kastil Heidelberg di Jerman, Milan Cathedral di Italia, dan lain-lain.

Seni Arsitektur pada Periode Abad Pertengahan tetap bertahan hingga saat ini dengan gaya dan ciri khas yang ditinggalkan. Beberapa bangunan peninggalan Abad Pertengahan menjadi warisan kebudayaan yang ditetapkan oleh UNESCO. Gaya Arsitektur dari Periode Abad Pertengahan banyak mempengaruhi perkembangan Seni Arsitektur hingga ke Benua Amerika pada abad ke-18.
Demikian deskripsi Seni Arsitektur periode Abad Pertengahan di Eropa. Artikel terkait lainnya silahkan cek di tegaraya.com

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter